Thursday, August 2, 2012

STUDY KASUS

A.    Latar Belakang
            Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalamberinteraksi dalam kehidupan sehari-hari dan juga membutuhkan bantuanbantuan orang lain, untuk mencapai tujuan yang hendak dicapainya. Manusia, ketika dilahirkan di dunia sudah membutuhkan bantuan dan bimbingan dari orang lain, terutama bimbingan dari orang tua. Orang tua mengasuh anaknya supaya menjadi anak yang tumbuh dan berkembang secara optimal dan normal. Ketika anak tersebut mulai menjadi anak yang dewasa, orang tua memasukkan anaknya ke sekolah. Di sekolah anak tersebut mendapatkan bimbingan dari para guru-guru dalam proses belajar mengajar. Sebagaimana dalam bukunya Hery Noer Aly yang menjelaskan bahwa tugas dari seorang guru adalah .memperhatikan fase perkembangan berpikir murid agar dapat menyampaikan ilmu sesuai dengan kemampuanberpikir murid. (http://digilib.unnes.ac.id).
            Sekolah juga merupakan pusat pendidikan formal yang mempunyai peranan penting dalam mengantarkan masyarakat kearah kehidupan yang lebih baik dan sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan bagi perannya di masa yang akan datang.
Proses perkembangan dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dan dalam maupun dan luar. Dan dalam dipengaruhi oleh pembawaan dan kematangan, dan dan luar dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Perkembangan dapat berhasil baik jika faktor-faktor tersebut dapat saling melengkapi. Untuk mencapai perkembangan yang baik harus ada asuhan yang terarah. (http://www.scribd.com/doc/28205483/Latar-Belakang-Bimbingan-Dan-Konseling)
            Layanan bimbingan siswa merupakan suatu metode pengumpulan data yang menggunakan berbagai teknik pendekatan dan data yang terkumpul meliputi aspek pribadi secara lengkap beserta lingkungannya. Studi kasus dapat diartikan suatu metode untuk menyelidiki atau mempelajari individu secara intensif dengan tujuan membantu siswa untuk mencapai penyesuaian diri yang baik. Sesuai dengan tujuan layanan bimbingan siswa itu sendiri, yaitu untuk memahami siswa sebagai individu dalam menyesuaikan diri yang lebih baik, sehingga kepribadiannya dapat berkembang secara optimal. Di sini praktikan melakukan penyusunan laporan studi kasus dengan tujuan untuk mengetahui permasalahan apa saja yang dihadapi siswa sehingga praktikan dapat menentukan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk membantu siswa dalam pemecahan masalah yang dihadapi.
            Studi kasus diawali dengan proses pembagian Daftar Cek Masalah (DCM) kepada siswa, kemudian dari Daftar Cek Masalah yang dikembalikan, dianalisis dan dipilih kira-kira mana yang akan dijadikan objek penelitian. Setelah itu dilakuakn wawancara terhadap objek penelitian dengan mencocokan dengan apa yang diisi didalam daftar cek masalah. Dan kemudian konselor diharapkan
dapat memberikan pemecahan masalah yang selanjutnya dapat dilaksanakan siswa untuk menyelesaikan masalahnya.
            Berbagai bentuk permasalahan atau kesulitan yang dihadapi siswa dapat berupa :
1.    Kesulitan belajar yang ditandai dengan prestasi belajar yang rendah
2.    Kebiasaan buruk yang dilakukan siswa dalam proses belajar
3.    Kesulitan yang ada kaitannya dengan kurangnya perhatian orang tua.
4.    Kesulitan dalam menempatkan diri sebagai siswa.
5.    Kesulitan yang berkaitan dengan gejala jiwanya
6.    Kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial
            Dalam kenyataannya tidak semua siswa mampu mengatasi masalah yang dihadapinya tanpa bantuan dari orang lain. Untuk itulah guru tidak hanya bertugas sebagai pengajar dan pendidik, namun guru harus berperan pula pada pembimbing.
            Dalam melaksanakan  program praktek pengalaman lapangan (PPL) ini, praktikan  tidak hanya melaksanakan kegiatan belajar mengajar saja akan tetapi juga disyaratkan untuk menganalisa permasalahan-permasalahan (case study) yang ada disekitar sekolah, dan peserta didik yang berhubungan langsung dengan berjalannya proses praktek pengalaman lapangan (PPL).  Hal itu  dikarenakan dalam peningkatan  mutu pendidikan nasional, semua  elemen-elemen pendidikan harus diperhatikan bukan hanya segi efektifitas pengajarannya, penyesuaian materi, kurikulum yang sempurna, dan suasana belajar kondusif akan tetapi kondisi peserta didik juga perlu diperhatikan dan diberikan perlakuan yang educatif terlebih peserta didik yang mempunyai permasalahan dengan belajarnya di sekolah.
            Melihat kondisi dan kondisi yang demikian, penulis beranggapan sangat diperlukan  diadakannya wadah atau layanan bimbingan bagi siswa yang bermasalah tersebut, yang mana bimbingan bagi siswa ini diharapkan dapat membantu guru dan khususnya siswa itu sendiri dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Karena sebaik apapun metode pengajaran yang diberikan tidak akan efektif bagi siswa yang mempunyai banyak beban dan masalah-masalah pesikologis.

B.      Pengertian Layanan Bimbingan Siswa.
            Menurut Crow & Crow dalam Muhammad Surya (1988:32), bimbingan merupakan bantuan yang diberikan oleh seseorang bik pria maupun wanita yang memiliki pribadi yang baik dan pendidikan yang memadai kepada seseorang individu dari setiap usia untuk menolongnya mengembangkan kegiatan-kegiatan hidupnya sendiri membuat pilihan sendiri dan memikul bebanya sendiri
            Sedangkan Mortensen (1976) mengatakan bahwa layanan studi kasus kesulitan belajar bidang studi atau bimbingan merupakan bagian dari program pendidikan yang membantu menyediakan kesempatan dan layanan dari staf khusus agar semua siswa dapat mengembangkan kecakapan dan kemampuan mereka sepenuhnya sesuai dengan arti konsep demokratis. (http://qym7882.blogspot.com/2009/04/pengertian-layanan-studi-kasus.html)
            Studi kasus merupakan metode pengumpulan data yang bersifat integrative dan conprehensible. Dengan data yang diperoleh dapat ditetapkan dan ditentukan jenis permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik (klien). Dalam bimbingan  ini praktikan menggunakan metode hoom room program, dengan tujuan untuk menciptakan suasana kelas/bimbingan yang bebas dan menyenangkan seperti di rumah sendiri bagi siswa, bimbingan ini dilakukan dengan cara tanya jawab, menampung banyak pendapat, dan sebagainya dari pihak-pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung terlibat dengan keseharian peserta didik (klien).
            Jadi pengertian bimbingan belajar yaitu proses bantuan yang diberikankepada individu (murid) agar dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapinyadalam belajar. Sehingga setelah melalui hasil belajar yang optimal sesuai dengankemampuan, bakat dan minat yang dimiliki.
            M. Surya (1988:12) berpendapat bimbingan adalah suatu proses pemberian atau layanan bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan..
Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik sebuah inti sari bahwa bimbingan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada individu agar dapat mengembangkan kemampuannya seoptimal mungkin, dan membantu siswa agar memahami dirinya (self understanding), menerima dirinya (self acceptance), mengarahkan dirinya (self direction), dan merealisasikan dirinya (self realization).
Konseling adalah proses pemberian yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien (Prayitno, 1997:106).
Konseling merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada seseorang supaya dia memperoleh konsep diri dan kepercayaan pada diri sendiri, untuk dimanfaatkan olehnya dan memperbaiki tingkah lakunya pada masa yang akan datang (Mungin Eddy Wibowo, 1986:39).
       Dari pengertian tersebut, dapat dirangkum ciri-ciri pokok konseling, yaitu:
(1) adanya bantuan dari seorang ahli,
(2) proses pemberian bantuan dilakukan dengan wawancara konseling,
(3) bantuan diberikan kepada individu yang mengalami masalah agar memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri dalam mengatasi masalah guna memperbaiki tingkah lakunya di masa yang akan datang.

C.    Tujuan Layanan Bimbingan Siswa
Mengingat pentingnya studi kasus ini dengan segala aspeknya permasalahan yang dihadapi, maka kegiatan study kasus ini juga harus mempunyai tujuan karena tujuan adalah suatu hal yang hendak didapat atau diraih oleh praktikan/ pembimbing. Oleh karana itu sebelum melaksanakan kegitan studi kasus atau bimbingan siswa, hendaknya penulis menentukan terlebih dahulu apa yang ingin dicapai melalui studi kasus tersebut, agar ada jarak kerja yang terarah dalam penulisan layanan bimbingan siswa ini, sebab penulis merupakan calon pendidik yang  ingin mengatahui problematika yang sedang dihadapi peserta didik dan memformulasikannya dengan baik dan terperinci.
Tujuan layanan bimbingan atau studi kasus kepada siswa dibagi menjadi :
v  Tujuan umum
Mengenal siswa lebih dekat dari latar belakang pribadi siswa yang mengalami kesulitan belajar  sehingga dapat ditetapkan jenis permasalahan, sifat kesulitan belajar, dan faktor penyebabnya, serta tata cara menetapkan kemungkinan pemecahannya.
v  Tujuan Khusus
1)        Mengidentifikasi siswa dalam kesulitan belajar
2)        Memahami dan menetapkan berbagai alternatif pemecahan masalah berdasarkan data dan informasi yang obyektif  dan lengkap
3)        Mengembangkan cara pemecahan masalah yang dihadapi oleh siswa atau klien.
4)        Membantu siswa untuk mengembangkan potensi diri sesuai bakat, minat, kemampuan dan cita-cita siswa itu sendiri.
5)        Bagi calon pendidik terlatih untuk memecahkan masalah dan menetapkan alternatif pemecahan yang baik.
6)      Memberikan motifasi pada siswa atau klien yang bermasalah.
7)      Memberikan bimbingan dengan suasana yang menyenangkan tanpa harus ada siswa yang merasa keberatan untuk diberikan bimbingan.
8)      Membantu siswa yang bermasalah atau klien dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

D.    Fungsi Bimbingan
Fungsi Bimbingan Konseling, sebagaimana yang kita tahu bahwa konselor sekolah berfungsi untuk menangani masalah yang ada di sekolah baik berupa kekerasan fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh siswa/siswa sekolah. disinilah peran bimbingan konseling diperlukan untuk membimbing atau menangani, menasehati siswa yang terlibat dalam suatu masalah
            Bimbingan Konseling Merupakan suatu kegiatan bantuan dan tuntunan yang diberikan kepada individu pada umumnya, dan siswa pada khususnya di sekolah. Menurut Sertzer dan Stone, bimbingan merupakan proses membantu orang perorangan untuk memahami dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya..
Adapun beberapa fungsi dari bimbingan konseling yaitu:
  • Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
  • Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
  • Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli.Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata.
  • Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.
  • Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
  • Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
  • Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konselor.

E.     Manfaat Layanan Bimbingan Siswa
Layanan bimbingan siswa ini sangat bermanfaat bagi pihak yang berhubungan dan bertanggung jawab secara langsung dalam usaha membantu siswa untuk mencapai presentasi belajar yang optimal. Pihak-pihak yang mendapatkan manfaat dari adanya layanan bimbingan siswa ini adalah :
1.       Manfaat Bagi Penulis
a.       Sebagai bahan koreksi dan evaluasi diri dan tambahan pengalaman dalam memahami dan menyikapi permasalahan perkembangan kondisi, karakter, kognitif dan afektif siswa, demi kelancaran proses belajar mengajar..
b.      Sebagai wahana pengukuran, kritik, dan assesments diri juga sebagai jembatan penerapan dan evalusi metode-metode pendekatan psikologi pendidikan yang di terima secara teori dari bangku kuliah.
c.       Sebagai tambahan ilmu pengetahuan untuk membangun pribadi yang profesional dan bertanggung jawab.
d.      Sebagai evaluasi diri agar nantinya bisa mengajar sesuai dengan kemampuan siswa
2.      Manfaat Bagi Siswa
1.    Dapat membantu siswa dalam membiasakan berkomunikasi dengan gurunya.
2.    Membantu untuk membangun dan meraih motivasi dan informasi tentang proses belajar.
3.    Membantu siswa mengenal dan memahami dirinya dengan baik. Mengenal dan memahami dirinya dengan baik.
4.    Membantu siswa dalam berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman-temannya dan lingkungan sekitarnya.
3.      Wali Kelas
Wali kelas merupakan pengganti orang tua siswa ketika di sekolah khususnya di kelas sehingga bertanggung jawab dalam memberikan motivasi, bimbingan dan pengarahan kepada siswanya. Dengan adanya layanan bimbingan siswa ini dapat digunakan wali kelas untuk :
1.      Membantu wali kelas untuk mengetahui faktor permasalahan yang di hadapi siswanya yang menghambat proses belajar mengajar di kelas.
2.      Membantu dalam memahami karakter siswa yang berbeda dengan siswa lainnya.  Membantu  memahami proses perkembangan anak didiknya sehingga dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam membantu anak didiknya menyelesaikan masalah yang dihadapi.
4.      Guru Bidang Studi
             Layanan bimbingan siswa penting bagi setiap guru karena guru sering menghadapi siswa dengan karakter dan masalah yang berbeda. Pelaksanaan bimbingan siswa yang baik dan tepat akan membantu menangani  siswa yang sedang bermasalah dengan lebih cepat, sehingga tidak mengganggu proses belajar mengajar di kelas serta dapat dijadikan sebagai cara dalam meningkatkan prestasi anak didik dalam bidang studi yang bersangkutan, hal tersebut diakibatkan karena kemampuan dan kesenangan anak didik terhadap suatu bidang studi atau mata pelajaran berbeda-beda antara satu siswa dengan siswa lainnya sehingga perlunya informasi tersebut yang nantinya dijadikan bahan evaluasi guna peningkatan prestasi akademik siswa yang bersangkutan.
5.      Kepala Sekolah
Hasil layanan bimbingan siswa ini dapatdipakai sebagai :
a.       Sebagai salah satu sumber informasi tentang siswa yang dapat digunakan sebagai landasan dalam menentukan kebijakan kaitannya dengan perencanaan dan pelaksanaan program bimbingan dan konseling.
b.      Sebagai bahan pertimbangan dalam memonitoring keadaan siswa dan kemampuan guru, terutama yang berkaitan dengan layanan program bimbingan siswa.
6.      Guru BP/Konselor
Sebagai bahan pertimbangan dalam membimbing siswa yang mengalami kesulitan belajar atau bermasalah karena, konselor adalah guru yang mempunyai keahlian khusus/metode khusus dalam menangani siswa yang bermasalah. Karenahal tersebut perlu, ketika melakukan tugas bimbingan dan konseling,karena akan dihadapkan dengan berbagai macam problematika siswa.
7.      Orang Tua Siswa
Manfaat layanan bimbingan bagi orang tua siswa antara lain :
a.       Meringankan beban orang tua dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan yang dialami anaknya.
b.      Meningkatankan komunitas antara orang tua dan sekolah sehingga secara bersama-sama dapat menentukan solusi permasalahan yang dialami anak.
 8. Manfaat Bagi Sekolah
1.    Bagi sekolah kegiatan layanan bimbingan siswa ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam menonitor keadan peserta didik
2.    Sebagai bahan evaluasi terhadap kemampuan guru dalam menentukan dan memberian materi, perlakuan dan bimbingan terhadap siswa dan tidak lanjutnya terhadap siswa yang dianggap bermasalah.
Sebagai bahan acuan dalam menentukan  dan penyusunan silabus pengajaran, program satuan pengajaran, program tahunan, dan program analisis untuk memenuhi kebutuhan peserta didik akan khazanah ilmu pengetahuan.

F.     Prinsip-Prinsip Layanan Bimbingan Siswa
·         Prinsip merupakan paduan hasil kegiatan teoretik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan (Prayitno, 1997:219). Berikut ini prinsip-prinsip bimbingan konseling yang diramu dari sejumlah sumber, sebagai berikut:
·         Sikap dan tingkah laku seseorang sebagai pencerminan dari segala kejiwaannya adakah unik dan khas. Keunikan ini memberikan ciri atau merupakan aspek kepribadian seseorang. Prinsip bimbingan adalah memperhatikan keunikan, sikap dan tingkah laku seseorang, dalam memberikan layanan perlu menggunakan cara-cara yang sesuai atau tepat.
·         Tiap individu mempunyai perbedaan serta mempunyai berbagai kebutuhan. Oleh karenanya dalam memberikan bimbingan agar dapat efektif perlu memilih teknik-teknik yang sesuai dengan perbedaan dan berbagai kebutuhan individu.
·         Bimbingan pada prinsipnya diarahkan pada suatu bantuan yang pada akhirnya orang yang dibantu mampu menghadapi dan mengatasi kesulitannya sendiri. Dalam suatu proses bimbingan orang yang dibimbing harus aktif , mempunyai bayak inisiatif. Sehingga proses bimbingan pada prinsipnya berpusat pada orang yang dibimbing.
·         Prinsip referal atau pelimpahan dalam bimbingan perlu dilakukan. Ini terjadi apabila ternyata masalah yang timbul tidak dapat diselesaikan oleh sekolah (petugas bimbingan). Untuk menangani masalah tersebut perlu diserahkan kepada petugas atau lembaga lain yang lebih ahli.
·         Pada tahap awal dalam  bimbingan pada prinsipnya dimulai dengan kegiatan identifikasi kebutuhan dan kesulitan-kesulitan yang dialami individu yang dibimbing.
·         Proses bimbingan pada prinsipnya dilaksanakan secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan yang dibimbing serta kondisi lingkungan masyarakatnya.
·         Program bimbingan dan konseling di sekolah harus sejalan dengan program pendidikan pada sekolah yang bersangkutan. Hal ini merupakan keharusan karena usaha bimbingan mempunyai peran untuk memperlancar jalannya proses pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan.
·              
G.    Metode / Teknik Pengumpulan Data
Dalam mendapatkan informasi yang lengkap dan valid dibutuhkan beberapa metode yang efektif dalam mengumpulkan data, adapun metode yang digunakan oleh penulis adalah sebagai berikut:
1.         Metode Dekumenter
Metode ini digunakan untuk memperoleh data siswa yang didapat dari dekumen resum sekolah yang berupa nilai raport, buku induk, kartu peserta didik dan nilai ulang harian peserta didik.
2.         Metode Sosiometri
Sosiometri ialah cara atau alat yang tepat untuk mengumpulkan data mengenai hubungan-hubungan sosial dan tingkah laku sosial peserta didik. Dengan teknik ini konselornya dapat mengumpulkan data tentang susunan hubungan antar individu, dan arah hubungan sosial peserta didik.
3.         Metode Angket
Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara memberikan angket kepada siswa sebagai alat pengumpulan informasi dan data, angket berupa sejumlah pertanyaan yang telah diisi akan menjadi tambahan data tentang diri pribadi.
4.         Metode wawancara
        Metode ini adalah cara penulis memperoleh data dengan mengadakan wawancara atau komunikasi secara lisan dan tulisan langsung terhadap siswa sebagai sumber data dan pihak-pihak yang terlibat langsung ataupun tidak terlibat secara langsung   dengan perkembangan diri siswa.
5.         Metode Observasi
Data ini didapatkan penulis dengan melaksanakan observasi atau pengamatan secara langsung baik dari dalam maupun dari luar kelas dengan teknik informasi yang didapat dari pergaulan peserta didik dengan teman-teman guru, dan elemen sekolah yang lain.


H.     Konfidensi
Untuk mendapatkan kepercayaan dari siswa maka pembimbing harus bertanggung jawab terhadap kerahasiaan pribadi siswa dan harus berpegang teguh pada kode etik bimbingan dari penyuluhan. Sesuai dengan kode etik tersebut bahwa konselor harus dapat memegang rahasia dengan sebaik-baiknya. Tanggung-jawab konselor ini sesuai dengan pernyataan yang tercantum dalam kode etik jabatan konselor.
 Oleh karena itu data dalam studi kasus ini hanya bersifat fiktif. Dengan adanya penyimpangan atau kerahasiaan data ini maka siswa akan memberikan informasi keadaan dirinya sampai dengan permasalahan yang sangat pribadi. Jadi jika data yang ada pada laporan layanan bimbingan ini ada kesamaan dengan subyek lain, maka hal itu dianggap sebagai ketidak sengajaan penulis.   

No comments:

Post a Comment